Tuesday, May 11

Keputusan Sourcing Dalam Rantai Pasokan

 

 

Procurement ialah proses yang mana perusahaan mendapatkan elemen bahan baku. Produk. Service atau sumber daya yang lain dari supplier untuk melaksanankan operasi mereka. Sourcing ialah keseluruhnya beberapa kumpulan proses usaha yang dibutuhkan untuk beli barang serta layanan. Untuk peranan rantai suplai. Ketetapan yang penting ialah apa outsource atau in-house. Satu perusahaan outsource bila perusahaan sewa perusahaan luar untuk melakukan operasi pada suatu perusahaan. Kegiatan outsourcing rantai suplai berdasar dua pertanyaan:

Akankah faksi ke-3 tingkatkan surplus rantai suplai untuk tingkatkan kesibukan in-house? Sampai berapa tingkat risiko tumbuh dari outsourcing?

Meskipun ketetapan untuk outsource dibikin. Proses sourcing mencakup seleksi supplier. Mendesain kontrak supplier. Kerjasama design produk. Penyediaan material atau service serta penilaian perform supplier.

Supplier scoring and assessment ialah proses yang dipakai untuk tingkat perform supplier. Supplier selection ialah pemakaian output dari scoring supplier serta penilaian untuk mengidentifikasikan supplier yang tepat.

Desain collaboration memperkenankan supplier serta manufaktur untuk kerja bersama-sama saat mendesain elemen untuk produk final. Procurement ialah proses yang mana supplier kirim produk dalam tanggapan untuk tempatkan pesanan konsumen.

Sourcing rencana and analysis untuk menganalisa pengeluaran silang beberapa supplier serta kelompok elemen untuk mengenali peluang untuk kurangi ongkos keseluruhan. Saat mendesain taktik sourcing. Yang perlu untuk perusahaan menerangkan unsur impak yang paling besar pada perform serta melakukan perbaikan sasaran dalam tempat.

In-house atau outsource

Perusahaan harus menimbang outsourcing bila perkembangan surplus besar dengan efek yang kecil. Peranan bentuk in-house lebih bagus bila perkembangan surplus kecil atau kenaikan risiko besar.

Bagaimana faksi ke-3 tingkatkan surplus rantai suplai : faksi ke-3 akan tingkatkan surplus rantai suplai bila mereka tingkatkan nilai untuk customer atau kurangi ongkos rantai suplai untuk perusahaan lakukan pekerjaan in-house. Faksi ke-3 bisa tingkatkan efisien surplus rantai suplai bila mereka bisa kumpulkan asset atau mengalir untuk tingkat yang makin tinggi daripada perusahaan tersebut. Beberapa tipe proses faksi ke-3 yang bisa dipakai untuk tingkatkan surplus. Yakni: jumlah kemampuan. Jumlah inventorydan lainnya. Ongkos rendah serta kualitas tinggi.

Risiko memakai faksi ke-3 : perusahaan harus menilai efek : proses rusak. Menaksir ongkos pengaturan. Kurangi kontrak customer/supplier. Hilangnya kekuatan internal serta perkembangan dalam kemampuan faksi ke-3. Kebocoran info serta data peka. Kontrak tidak efisien

Third and fourth-party logistic providers

Third-party logistic (3pl) bekerja pada satu atau bisa lebih kegiatan logistic yang terkait dengan saluran produk. Info. Serta dana yang bisa ditangani oleh perusahaan tersebut. Dengan bertambahnya globalisasi dari rantai suplai. Customer cari pemain yang bisa mengurus dengan cara virtual semua faktor dari rantai suplai. Ini menimbulkan ide dari fourth-party logistic (4pl).

Supplier scoring and assessment

Saat memperbandingkan perusahaan. Banyak perusahaan membuat kesalahan inti cuman konsentrasi pada paket harga. Meremehkan bukti jika penyalur tidak sama pada dimensi yang perlu yang memengaruhi ongkos keseluruhan yang dipakai supplier. Saat menskor serta menakasir supplier. Ada unsur lain dibanding paket harga yang perlu diperhitungkan: pemenuhan lead time. Perform on-time. Fleksibelitas suplai. Frekwensi pengiriman/minimal lot size. Kualitas suplai. Ongkos transportasi inbound. Pricing termin. Kompetensi pengaturan info. Kompetensi kalaborasi design. Tingkat bunga. Pajak serta pekerjaan. Keberlangsungan hidup supplier.

Supplier selection – auctions and negotiations

Sebelum memilih supplier. Perusahaan harus putuskan apa memakai single sourcing atau multiple supplier. Seleksi supplier ialah sesudah memakai proses yang macam. Mencakup off line competitive bid. Reverse auction atau negosiasi langsung. Apa saja mekasisme yang digunaka. Seleksi supplier harus berdasar pada ongkos keseluruhan yang dipakai supplier serta bukan hanya harga pembeliaan. Proses lelang yang seringkali dipakai dalam praktik serta menyorot semua kekayaan mereka.

Lelang dalam rantai suplai : konsumen perlu susunan lelang untuk meminimalisir ongkos mereka serta memperoleh supplier yang menang dengan ongkos yang rendah dengan penawaran mereka. Lelang dibuka seperti lelang bahasa inggris kemungkinan untuk capai outcome. Konsep dasar negosiasi : kuncy sukses negosiasi. Untuk bikin outcome yang saling untung.

Contracts and suplai chain performnce

Kontrak harus dibuat untuk memberikan fasilitas outcome rantai suplai serta miminimalkan aksi yang menghancurkan perform. Ada 3 pertanyaan saat mendesain kontrak rantai suplai:

Bagaimana kontrak akan memengaruhi keuntungan perusahaan serta keseluruhan keuntungan rantai suplai?

Akankah stimulan dalam kontrak mengenalkan beberapa penyimpang info?

Bagaimana kontrak akan memengaruhi perform supplier selama kunci ukuran perform?

Kontrak untuk tersedianya produk serta keuntungan rantai suplai : untuk melakukan perbaikan keuntungan keseluruhannya. Supplier harus mendesain kontrak untuk memberikan dukungan konsumen untuk beli bertambah serta tingkatkan level tersedianya produk. Membutuhkan supplier untuk share (ikut) dalam beberapa dari ketidak-pastian keinginan konsumen. 3 kontrak yang tingkatkan keuntungan keseluruhannya :

Buyback contract : manufaktur bisa memakai buyback kontrak untuk tingkatkan keuntungan. Menggerakkan retailier untuk tingkatkan level tersedianya produk. Buyback kontrak menggerakkan mengarah usaha retailer yang makin rendah serta tingkatkan penyelewengan info dalam rantai suplai.

Revenue – share contract : double marginalisasi dengan kurangi biya per unit yang dikenai untuk retailier. Jadi dengan cara efektig kurangi ongkos overstocking. Revenue – share contract tingkatkan penyelewengan info serta menggerakkan mengarah usaha retailer yang makin rendah dalam masalah overstocking. Cuman hal nya yang dilaksanakan buy-back kontrak.

Quantity flexibelity contract : double marginalisasi dengan memberi retailer kekuatan untuk melakukan modifikasi pesanan berdasar pembaruan pendekatan forecast untuk poin sale. Hasil kontrak ini dalam rendahnya penyelewengan info dibanding buy-back atau revenue share contract saat supplier jual untuk konsumen yang multiple atau kelebihan supplier. Kemampuan fleksibel.

Desain collaboration

Kerjasama design dengan supplier bisa menolong perusahaan kurangi ongkos. Melakukan perbaikan kualitas serta kurangi waktu untuk pasar. Dengan cara tanggung jawab design gerakkan untuk supplier. Penting untuk jamin design untuk kogistik serta design untuk konsep manufaktur untuk diiringi. Untuk sukses. Manufaktur harus jadi koordinator design efisien dalam rantai suplai.

The procurement process

Proses penyediaan untuk material langsung harus konsentrasi pada melakukan perbaikan pengaturan serta jarak pandang dengan supplier. Dan proses penyediaan untuk material tidak langsung harus konsentrasi pada kurangi ongkos transaksi untuk tiap pesanan. Proses penyediaan dalam dua masalah harus koalisi pesanan untuk memperoleh keuntungan rasio ekonomis serta jumlah potongan harga.

Sourcing rencana and analysis

Pengeluraan penyediaan harus di analisa penyalur serta sisi untuk pastikan kecocokan rasio ekonomi. Analisa perform supplier harus dipakai untuk membuat portfolio supplier dengan kemampuan komplementer. Murah. Tapi perform yang rendah. Supplier harus memakai untuk stok berdasar keinginan sedang perform yang tinggi tetapi tambah mahal. Supplier harus memakai untuk meredam menantang macam dalam keinginan serta stok dari sumber daya lain.

Risk management in sourcing

Risiko sourcing dapat dalam ketakmampuan untuk penuhi keinginan pas waktu. Tingkatkan dalam ongkos penyediaan atau hilangnya property cendekiawan. Penting untuk meningkatkan taktik peringanan yang menolong kurangi sisi dari risiko ketakmampuan dalam penuhi keinginan pas waktu muncul sebab masalah atau penangguhan dari sumber daya yang ada.

Making sourcing decisions in practice

Memakai team multifungsional

Pastikan pengaturan yang sesuai dengan ke lintas wilayah serta usaha unit

Tetap menilai ongkos keseluruhan dari pemilikan

Membuat jalinan periode panjang dengan kunci supplier

Rujukan :

Chopra. Sunil & peter meindl. 2007. Suplai chain management: strategy. Rencana & operations. 3rd edition. Pearson prentice hall.

 

error: Content is protected !!